RSS

Pelatihan Penyuluh Perikanan, Mataram

31 Jan

Penyuluh Perikanan merupakan ujung tombak keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan, karena itu peningkatan kapasitas para penyuluh merupakan sebuah keharusan.  Pelatihan bagi penyuluh perikanan dari 5 Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaksanakan selama 3 hari di Lombok Raya Hotel, Mataram.
Tujuan dari kegiatan ini adalah memberi pelatihan yang bersifat penyegaran dan peningkatan kemampuan di bidang PRA, SWOT analisis dan community organizer; menggali dan memetakan kebutuhan pengembangan kapasitas bagi para Penyuluh Perikanan di masa yang akan datang; melakukan sosialisasi terkait kegiatan IMACS kepada para Penyuluh;  dan membina kerjasama yang baik dengan para Penyuluh Perikanan untuk pelaksanaan kegiatan di masa yang akan datang.
Metode yang digunakan pada pelatihan ini adalah metode pendidikan orang dewasa (andragogy method), dimana setiap peserta diposisikan sebagai narasumber aktif yang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Metode ini akan memberikan kesempatan bagi setiap peserta pelatihan mengeksplorasi kapasitas diri mereka melalui ungkapan pendapat / pengalaman (ide/gagasan) dan ekspresi sikap dalam mengambil keputusan. Dengan begitu, setiap peserta dapat berbagi dan belajar langsung sesama peserta serta mendapatkan pengalaman yang akan menjadi capital baru yang dapat mendukung fungsi, peran dan tugas-tugas yang akan diemban setiap peserta (sebagai Penyuluh).
Materi-materi yang disajikan terdiri dari 2 topik utama, yaitu, (1) Participatory Rural Appraisal (PRA), dan (2) pengorganisasian masyarakat.  PRA bertujuan untuk membantu peserta mengenali sejumlah metode atau teknik-teknik yang diperlukan dalam penelitian (pengkajian) yang melibatkan masyarakat sebagai pelakunya. Hal ini diperlukan untuk membangun partisipasi dan tanggung jawab masyarakat dalam mengambil bagian dari proses-proses pembangunan. PRA menjadi aksi solutif untuk mengatasi sikap yang kurang produktif dari masyarakat (seperti; tidak partisipatif, lemah tanggung jawab dan lemah kontributif) sebagai akibat proses alienasi kegiatan-kegiatan pembangunan, utamanya yang terjadi pada masyarakat yang berdiam di wilayah pesisir dan kepulauan.
Terdapat 2 sub-bahasan penting dalam pemaparan PRA, yaitu pengenalan potensi desa dan pemetaan partisipatif.  Potensi desa tidak hanya sumberdaya fisik tapi juga non-fisik yang terdapat di desa dan bisa digunakan untuk mengatasi masalah atau mencapai tujuan kesejahteraan masyarakat.  Potensi sumberdaya fisik fisik di wilayah pesisir terdiri dari sumberdaya tidak dapat pulih, sumberdaya dapat pulih, dan jasa-jasa lingkungan.  Sementara salah satu potensi non-fisik yang dimiliki oleh masyarakat NTB adalah kearifan local awig-awig yang masih hidup di tengah masyarakat.
Potensi desa yang berhasil diidentifikasi selanjutnya digambarkan dalam sebuah peta yang disusun secara partisipatif bersama masyarakat, sehingga disebut pemetaan partisipatif.  Peserta training dipaparkan informasi tentang cara penyusunan peta partisipatif dan terutama unsur-unsur yang mesti ada dalam sebuah peta.  Pemahaman terhadap pengenalan potensi desa dan pemetaan partisipatif menjadi lebih mendalam sebab peserta secara aktif menggambar peta dan presentasi di depan kelas.
Pengorganisasian masyarakat (PM) merupakan bagian penting dari tahapan atau proses pemberdayaan masyarakat (community development). PM diawali dengan interaksi Penyuluh dengan masyarakat yang akan dibina atau didampingi. PM bertujuan untuk membangun kapasitas masyarakat agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pembangunan atau kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.
Sub-bahasan dari Pengorganisasian masyarakat adalah dinamika kelompok dan kepemimpinan situasional.  Materi yang disampaikan adalah tentang pentingnya kelompok, karakteristik kelompok yang efektif, dan bagaimana mendinamisasi sebuah kelompok.  Teknik utama dalam dinamika kelompok adalah kombinasi antara keberanian menyampaikan gagasan dan berempati terhadap gagasan orang lain.
Materi kepemimpinan situasional memberikan penekanan bahwa peserta (penyuluh perikanan) adalah para pemimpin karena tugas utamanya adalah mempengaruhi orang lain dan menciptakan pemimpin di masyarakat.  Karena itu sesi ini mengelaborasi karakteristik pemimpin yang efektif dan beberapa gaya kepemimpinan.  Gaya kepemimpinan yang digunakan selanjutnya berdasarkan situasi yang sedang dihadapi, terutama situasi bawahan, sehingga disebut dengan istilah kepemimpinan situasional.

 
Leave a comment

Posted by on January 31, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: