RSS

Profil KKLD Kabupaten Pangkep

25 Jan

Lebih dari setengah terumbu karang dunia berada di kawasan yang dikenal sebagai Coral Triangle (segitiga karang dunia), yaitu kawasan yang meliputi lautan seluas 6 juta km2 mencakup kawasan perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.  Total luas terumbu karang di kawasan coral triangle sekitar 75.000 Km2 dimana Indonesia menyumbang 65% dengan luasan terumbu karang sekitar 51.000 Km2.

Kepulauan Spermonde merupakan pusat dari Coral Triangle yang juga memiliki keragaman ekosistem dan keanekaragaman jenis biota laut yang tinggi. Kepulauan ini terbentuk dan muncul di atas dangkalan Spermonde (Spermonde Shelf) yang terletak di Pesisir barat Propinsi Sulawesi Selatan (Selat Makassar) membentang dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 300 km dengan luas 16.000 km2. Dari catatan sejarah terungkap bahwa bangsa Portugis merupakan bangsa yang pertama kali memberi nama kepulauan di pesisir barat Makassar ini dengan nama “Kepulauan Spermon”. Kata “Spermon” berasal dari bahasa yunani “Spermo” yang merujuk pada nama seorang dewi (cucu dari Apollo) dalam mitologi Yunani yang mampu mengubah apa saja yang disentuhnya menjadi biji atau benih (grain). Bangsa Belanda yang mencapai daerah ini pada abad ke‐17, melanjutkan penggunaan nama tersebut dalam peta mereka dengan sebutan “Kepulauan Spermonde”. Masyarakat lokal memberi nama ‘Sangkarang” untuk gugusan pulau‐pulau di daerah ini, sebuah nama yang telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa portugis di Indonesia.

Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) secara administratif termasuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde yang memiliki luasan paling besar diantara kabupaten/kota dalam lingkup kepulauan ini. Kabupaten Pangkep dicirikan oleh wilayah perairan lautnya yang luas dengan taburan 117 pulau-pulau, dimana 80 pulau diantaranya adalah pulau berpenghuni dan sisanya tidak berpenghuni. Perairan laut Kabupaten Pangkep merupakan ekosistem dengan keragaman hayati yang sangat tinggi terutama pada habitat terumbu karang di kawasan pulau-pulau kecil.

Kabupaten Pangkep memiliki wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17. Total luas daratan, pegunungan dan pulau-pulau tanpa lingkup perairannya adalah 1.112 km2, sementara luas lautnya adalah 17.100 km2. Pulua-pulau yang secara administratif termasuk dalam Kabupaten Pangkep tersebar hingga ke pelosok selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Wilayah pesisir dan laut Kabupaten Pangkep  dicirikan dengan produktivitas ekosistem yang tinggi sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian. Ditinjau dari segi ekonomi, sumberdaya alam dan jasa lingkungan wilayah pesisir cukup tahan terhadap pengaruh krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Ekosistem pesisir utama Kabupaten Pangkep adalah terumbu karang, mangrove, dan padang lamun.

Salah satu upaya dalam menyelamatkan ekosistem wilayah pesisir di kabupaten pangkep adalah dengan membetuk Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang telah diinisiasi oleh COREMAP II. DPL merupakan wilayah perlindungan laut yang dibentuk berdasarkan aspirasi masyarakat. Dari beberapa lokasi yang diajukan oleh masyakat dipilih salah satu yang memenuhi kriteria ekologi paling baik dari semua lokasi tersebut. Hingga saat ini hampir disetiap desa di empat kecamatan pesisir memiliki DPL.

Akan tetapi, permasalahan kerusakan ekosistem pesisir tidak secara otomatis telah terpecahkan dengan terbetuknya DPL tersebut, sebab pemilihannya bersifat lokal dan tidak berbasis ilmiah. Selain itu, kemampuan resistensi dan resiliensi dari setiap DPL belum teruji karena belum ada mekanisme konektivitas antar DPL yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut. Oleh karena itu, dibentuklah Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep berdasarkan Surat Keputusan Bupati No. 180 Tahun 2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep untuk menjamin daya resistensi dan resiliensi dari setiap lokasi terpilih melalui mekanisme konektivitas antar habitat, biota, dan kondisi ekologinya.

Lokasi Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) terdapat di wilayah administrasi Kecamatan Liukang Tupabbiring dan Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara Kabupaten Pangkep yang mencakup ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan sumberdaya alam lainnya.

Kawasan konservasi laut (KKL) secara individu maupun jaringan merupakan alat utama dalam melindungi keanekaragaman hayati laut. Beberapa teori merekomendasikan bahwa zona inti dalam KKL seharusnya melindungi lebih dari 20 %. Namun kesepakatan tentang seberapa besar habitat yang harus dilindungi keanekaragaman hayati lautnya dalam menjamin konektivitas ekologi belum ada. Salah satu contoh KKL yang dibentuk untuk menjamin konektivitas ekologi antara KKL adalah KKL Gulf of California yang meliptui 10 KKL dengan perbedaan habitat yang beranekaragam.

Pengertian KKL diusulkan oleh KOMITE NASIONAL KONSERVASI LAUT (KOMNASLAUT) sebagai terjemahan resmi dari Marine Protected Area (MPA). Dengan mengadopsi definisi dari IUCN, Kawasan Konservasi Laut adalah perairan pasang surut termasuk kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, termasuk tumbuhan dan hewan didalamnya, serta termasuk bukti peninggalan sejarah dan sosial budaya dibawahnya, yang dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif, baik dengan melindungi seluruh atau sebagian wilayah tersebut.

Kawasan konservasi laut merupakan suatu kawasan yang berfungsi untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam kawasan tersebut dari berbagai gangguan. Berbagai gangguan terhadap kawasan konservasi laut yang terjadi semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini, baik gangguan dari alam maupun dari aktivitas kegiatan manusia. Salah satu langkah yang nyata dalam mengurangi berbagai gangguan tersebut adalah penetapan kawasan konservasi laut. Pada dasarnya upaya konservasi laut di indonesia telah dilakukan masyarakat sejak dahulu, hal ini terbukti dengan adanya berbagai aturan atau hukum adat dalam pemanfaatan sumberdaya yang terdapat di kawasan tersebut. Akan tetapi pada akhir-akir ini upaya penetapan kawasan konservasi laut banyak menghadapi berbagai tantangan, misalnya krisis ekonomi, sosial budaya yang menurun, pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan, dan lain lain.

Pengelolaan sumber daya perikanan dan ekosistem perairan melalui pembentukan Kawasan Konservasi Laut berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan ini di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini dilatarbelakangi dengan tingginya tingkat kerusakan ekosistem perairan seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun serta masih berjalannya praktek-praktek penangkapan sumberdaya perikanan yang bersifat merusak. KKL sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan perikanan dapat menjadi alat dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, suatu pendekatan yang telah cukup banyak dikembangkan di berbagai negara saat ini.

KKL skala kecil atau pada tingkat desa dikenal dengan istilah Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang bertujuan untuk memberikan perlindungan khusus terhadap suatu kawasan yang secara ekologis bernilai tinggi, baik melalui peraturan formal maupun peraturan adat.  DPL merupakan cikal-bakal pembentukan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) pada level kabupaten.  DPL-DPL yang termasuk dalam wilayah KKLD selanjutnya dijadikan zona inti.

Terbitnya Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, memberikan pengaruh nyata bagi perkembangan KKL di Indonesia, khususnya di daerah. Sejalan dengan semangat otonomi daerah, KKL yang inisiasi dan pengelolaannya dilakukan oleh daerah disebut Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).   KKLD Kabupaten Pangkep sendiri ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati No. 180 Tahun 2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep.

Berdasarkan SK Bupati tersebut, KKLD Pangkep mencakup wilayah administrasi Kecamatan Liukang Tupabbiring dan Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara.  Potensi sumberdaya alam yang terdapat dalam kawasan KKLD Pangkep dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan berkelanjutan, wisata bahari, penelitian dan pengembangan, sosial ekonomi masyarakat, dan pemanfaatan sumberdaya laut lainnya dengan cara yang ramah lingkungan.  Sementara rencana zonasi KKLD Pangkep terdiri atas zona inti, zona perikanan berkelanjutan, zona pemanfaatan, dan zona lainnya.

 
2 Comments

Posted by on January 25, 2010 in Profil KKLD Pangkep

 

Tags: , , ,

2 responses to “Profil KKLD Kabupaten Pangkep

  1. tanpa nama

    September 21, 2010 at 1:16 pm

    thanks atas infonya…….
    jaga terus kelestarian laut pangkep…….

     
  2. Joyke Christian Kumaat

    December 6, 2010 at 12:49 am

    i like this ….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: