RSS

Masterplan Pertanian Tana Tidung

20 Jan

Sebagai daerah Kabupaten yang baru hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung atau yang populer disebut KTT dipacu untuk segera merealisasikan pembangunan di segala bidang guna meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.

Salah satu sektor pembangunan yang akan terus dipacu adalah sektor pertanian dalam arti luas yang merupakan sektor andalan diluar sektor minyak dan gas bumi dan pertambangan lainnya. Hal ini sesuai dengan pola mata pencaharian masyarakat setempat selama ini.

Pemerintah Kabupaten Tana Tidung berupaya untuk mengintensifkan kegiatan pembangunan yang orientasinya mengarah kepada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakat. Untuk mencapai sasaran tersebut maka diperlukan adanya prioritas-prioritas pembangunan yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan perekonomian masyarakat.

Tumbuh berkembangnya perekonomian masyarakat selain bertumpu pada kekuatan sumberdaya alam yang dimiliki dan sumberdaya manusia dengan kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi yang baik, juga ditentukan oleh rancangan pembangunan yang dibuat/ disusun untuk mencapai tujuan tersebut.

Program pembangunan yang terancang secara sistematis dengan prioritas-prioritas yang telah terukur dengan jelas, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap percepatan pembangunan dan kemajuan daerah secara menyeluruh. Kerja keras seluruh aparatur pemerintahan sangat dituntut untuk pencapaian tujuan tersebut.

Secara garis besar Kabupaten Tana Tidung mempunyai potensi sumberdaya alam yang cukup tinggi. Sumberdaya alam tersebut dapat berasal dari sumberdaya hutan, sumberdaya mineral, sumberdaya laut, sumberdaya pertanian dan lainnya. Selain kaya akan sumberdaya alam, Kabupaten Tana Tidung juga memiliki potensi kawasan yang sangat strategis dalam rangka pembangunan regional khususnya jika dikaitkan dengan kedekatan wilayahnya dengan Kota Tarakan dan Kabupaten Malinau.

Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya. Namun demikian, pada sejumlah kasus — yang sering dianggap bagian dari pertanian — dapat berarti ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Usaha pertanian memiliki dua ciri penting: (1) selalu melibatkan barang dalam volume besar dan (2) proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (seperti budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangkan ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.

Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan. Sebagaimana dapat dilihat, penggolongan ini dilakukan berdasarkan objek budidayanya:

  • budidaya tanaman, dengan obyek tumbuhan dan diusahakan pada lahan yang diolah secara intensif,
  • kehutanan, dengan obyek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar,
  • peternakan, dengan obyek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia),
  • perikanan, dengan obyek hewan perairan (ikan, amfibia dan semua non-vertebrata).

Dari sudut keilmuan, semua objek pertanian sebenarnya memiliki dasar-dasar yang sama karena pada dasarnya usaha pertanian adalah kegiatan ekonomi:

  • pengelolaan tempat usaha,
  • pemilihan bibit,
  • metode budidaya,
  • pengumpulan hasil,
  • distribusi,
  • pengolahan dan pengemasan,
  • pemasaran.

Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dinamakan agribisnis. Dalam kerangka berpikir sistem ini, pengelolaan tempat usaha dan pemilihan bibit (varietas, galur, dan sebagainya) biasa diistilahkan sebagai aspek “hulu” dari pertanian, sementara distribusi, pengolahan, dan pemasaran dimasukkan dalam aspek “hilir”. Budidaya dan pengumpulan hasil merupakan bagian dari aspek proses produksi. Semua aspek ini penting dan bagaimana investasi diarahkan ke setiap aspek menjadi pertimbangan strategis.

Sektor pertanian telah dan terus dituntut berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), perolehan devisa, penyediaan pangan dan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyedia lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Selain kontribusi langsung, sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang tidak langsung berupa efek pengganda (multiplier effect), yaitu keterkaitan input-output antar industri, konsumsi dan investasi. Dampak pengganda tersebut relatif besar sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena itu sangatlah tepat bila salah satu agenda pembangunan ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah Revitalisasi Pertanian.

Pada masa krisis, sektor pertanian terbukti lebih tangguh bertahan dan mampu pulih lebih cepat dibanding sektor-sektor lain, sehingga berperan sebagai penyangga pembangunan nasional. Peran tersebut terutama dalam penyediaan kebutuhan pangan pokok, perolehan devisa, penyedia lapangan kerja, dan penanggulangan kemiskinan. Sektor pertanian juga menjadi andalan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi perdesaan melalui pengembangan usaha berbasis pertanian. Dengan pertumbuhan yang terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada periode pemulihan pasca krisis, pembangunan pertanian telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Secara umum, sektor pertanian telah mampu melepaskan diri dari ancaman keterpurukan yang berkepanjangan, terlepas dari ancaman kontraksi berkelanjutan dan melepaskan diri dari perangkap “spiral pertumbuhan rendah” dan bahkan telah berada pada fase percepatan pertumbuhan menuju pertumbuhan berkelanjutan.

Selama periode tahun 2000-2003, rata-rata laju pertumbuhan tahunan PDB sektor pertanian mencapai 1,83 persen, jauh lebih tinggi disbanding periode krisis ekonomi (1998-1999) yang hanya mencapai 0,88 persen, bahkan dibanding periode tahun 1993-1997 (sebelum krisis ekonomi) yang mencapai 1,57 persen. Hingga triwulan III tahun 2004, PDB sektor pertanian tumbuh 3,23 persen terhadap triwulan yang sama tahun 2003. Subsektor tanaman bahan makanan dan perkebunan telah tumbuh lebih tinggi dari sebelum krisis namun subsektor peternakan masih belum sepenuhnya pulih kembali. Setelah melewati fase pertumbuhan rendah, sektor pertanian saat ini tengah berada pada fase percepatan pertumbuhan sebagai masa transisi menuju pertumbuhan berkelanjutan.

Kinerja neraca perdagangan (balance of trade) komoditas pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan (tidak termasuk perikanan dan kehutanan) selama periode 1995-2004 untuk produk segar dan olahan mengalami peningkatan secara konsisten. Rata-rata nilai ekspor pada periode sebelum krisis (1995-1997) mencapai 5,1 miliar dollar AS dengan nilai impor rata -rata 4,6 miliar dollar AS, sehingga surplus neraca perdangan 0,5 juta dollar AS. Pada masa krisis (1998-1999) impor turun drastis sehingga rata-rata neraca perdagangan mengalami surplus 1,4 miliar dollar AS. Pada periode pasca krisis (2000-2004) ekspor meningkat pesat sehinga neraca perdagangan meningkat dua kali lipat menjadi 2,2 miliar dollar AS.

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: