RSS

Lembaga Rating

18 Jan

Kredit macet yang terjadi di sektor perumahan Amerika, yang terkenal dengan subprime, menyebabkan kerugian besar bagi bank-bank Amerika maupun bank-bank dari berbagai  negara yang beroperasi di pasar perumahan Amerika.  Total kerugian akibat kasus subprime, menurut Bank of America, mencapai 7,7 triliun dollar.  Kondisi ini dapat mendorong krisis perekonomian global sebab Amerika merupakan negara dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia.

Salah satu biang kerok yang dianggap turut andil sebagai penyebab kredit macet subprime adalah lembaga rating (rating agency) atau lembaga pemeringkat internasional yang bermarkas di Amerika.  Bagaimana kontribusi lembaga rating dalam menciptakan kekacauan keuangan Amerika?

Lembaga rating mempunyai peran yang sangat signifikan dalam bisnis keuangan modern dewasa ini. Para investor hanya mau menanamkan modalnya di bisnis-bisnis yang telah di rating.  Demikian pula, perusahaan-perusahaan hanya akan mencari dana-dana dari para investor jika bisnis yang ditawarkan sudah di rating.  Tidak jarang perusahaan membatalkan rencana ekspansi bisnis, melalui pinjaman atau penambahan modal dari investor, karena rating yang diberikan ternyata tidak memenuhi kriteria investment grade (layak investasi).

Untuk program televisi, jika lembaga rating mengumumkan suatu program acara mempunyai rating yang tinggi, maka para pemasang iklan akan buruan memasang iklan di acara tersebut.  Dedengkot acara Republik Mimpi (News dot com), Dr. Effendy Gazali, sering mengeluh dengan rendahnya hasil rating acara tersebut.  Padahal menurut keyakinannya, acara tersebut adalah acara yang berkualitas dan bisa dipastikan banyak orang yang akan menonton.  Beberapa pengamat televisi juga mempertanyakan hasil rating yang memberikan nilai tinggi untuk ‘junk sinetron’ yang tidak berkualitas apalagi mendidik anak bangsa.

Dalam proses pemeringkatan, rating agency melakukan penilaian terhadap kemampuan perusahaan, yang akan mencari dana investasi, dalam mengelola dana tersebut.  Apakah perusahaan tersebut mempunyai kemampuan untuk mengambalikan dana investasi plus keuntungan di masa mendatang sesuai proposal bisnis yang diajukan. Penilaian meliputi operasional perusahaan dan reputasi manajemen, laporan keuangan, prediksi keuangan di masa datang, serta sejumlah informasi penting lainnya juga tak luput dari penilaian.

Berdasarkan penilaian yang sudah dilakukan, lembaga rating akan mengeluarkan hasil ratingnya, apakah perusahaan tersebut memenuhi kriteria investment grade atau tidak. Perusahaan yang dirating tidak layak investasi biasanya membatalkan rencananya atau memperbaiki point-point yang dianggap tidak memenuhi kriteris investment grade.

Setiap rating agency mempunyai kode sendiri-sendiri dalam pemeringkatan.  Perusahaan rating Standard & Poors, misalnya, menggunakan rating AAA dan AA untuk hasil peringkat yang very high quality (sangat layak investasi). Sedangkan kode yang dikeluarkan oleh perusahaan rating Moody’s untuk kualitas investasi yang sama kodenya adalah Aaa dan Aa.

Untuk kualitas tinggi (high quality), Standard & Poors memberikan kode A hingga BBB, sedangkan Moody’s memberikan kode antara A dan Baa. Untuk hasil rating yang dinilai spekulatif, Standard & Poors memberikan kode BB hingga B sementara Moody’s memberikan penilaian pada Ba hingga B. Di bawah kode tersebut, seperti CCC hingga D dan Caa hingga C dianggap bisnis yang tidak layak investasi.

Permasalahan muncul ketika lembaga rating ikut terlibat dalam bisnis yang di-rating.  Dengan kata lain, rating agency mempunyai 2 kaki, kaki kanan melakukan rating sementara kaki kiri ikut terlibat dalam bisnis yang di-rating.  Jika hal ini yang terjadi, maka hasilnya bisa dipastikan AAA atau Aaa  untuk kondisi yang sebenarnya D.

Jadi kalaupun bisnis yang ditawarkan oleh perusahaan sebenarnya mempunyai resiko gagal bayar yang sangat besar, para investor tetap saja menanamkan modalnya sebab mereka sangat percaya dengan rating diterbitkan oleh lembaga rating.  Kondisi inilah yang terjadi untuk kasus kredit perumahan, subprime, di Amerika.  Bank-bank Amerika dan bank-bank internasional lainnya mengucurkan dananya ke bisnis properti super murah yang mempunyai rating bagus, tapi kemudian yang terjadi adalah gagal bayar alias kredit macet yang terjadi secara besar-besaran.

Kasus yang sama sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2001 yang terkenal dengan kasus Enron.  Kasus Enron melibatkan perusahaan auditor terkenal Arthur Andersen yang selalu mengamini laporan keuangan Enron Corporation.  Laporan keuangan Enron sendiri senantiasa menunjukan angka-angka yang fantastik.  Tidak heran jika saham-saham Enron banyak diburu oleh para investor sehinga harganya pun melambung tinggi.

Ternyata, angka-angka akuntansi yang disajikan dan diaudit oleh Arthur Andersen adalah angka tipu-tipu alias penipuan akuntansi.  Ketika Enron sudah tidak mampu lagi membayar tagihan-tagihan, maka gelembung itu pun pecah.  Empat ribu orang mesti kehilangan pekerjaan, sementara Arthur Andersen, perusahaan auditor yang selalu masuk kategori the big five, dibubarkan oleh Pemerintah Amerika.

Arthur Andersen mempunyai 2 kaki di Enron, kaki kanan sebagai auditor dan kaki kiri sebagai konsultan.  Nilai kontrak yang diperoleh Arthur Andersen dari jasa auditing Enron sebesar 25 juta dollar, sementara untuk jasa konsultan sebesar 27 juta dollar pada tahun 2000.  Tidak heran jika laporan keuangan palsu Enron selalu mendapat stempel dari Arthur Anderson, sang auditor sekaligus mitra bisnis.

Pertanyaan yang sering muncul adalah siapa yang me-rating lembaga rating?

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2009 in Articles, Lembaga rating

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: