RSS

Lehman Brothers: Korban Terakhir Subprime Mortgage?

18 Jan

Satu lagi perusahaan keuangan kelas dunia gugur akibat krisis subprime mortgage.  Kali ini korbannya tidak tanggung-tanggung, Lehman Brothers, perusahan keuangan nomor 4 terbesar di dunia.  Sebelumnya, 2 bank yang khusus membiayai sektor perumahan Amerika, Fannie Mae dan Freddie Mac, mengibarkan bendera putih menandai akhir perjuangan melawan hempasan subprime mortgage.  Beruntung pemerintah Amerika berbaik hati memberikan dana talangan (bail out) kepada 2 bank tersebut.  Hal yang sama terjadi pada firma keuangan Merrill Lynch yang pasrah diakuisisi oleh Bank of America senilai 50 miliar dollar AS setelah mengumumkan rescue sale.  Pertanyaannya, apakah Lehman Brothers korban terakhir badai subprime mortgage?

Banyak analis ekonomi meyakini bahwa masih banyak perusahaan keuangan global yang saat ini sudah sempoyongan mempertahankan kondisi keuangan perusahaan akibat subprime mortgage.  Bank-bank investasi yang mengelola dana para pemodal besar mulai kewalahan menghadapi permintaan pengembalian modal.   Para pemilik modal mulai ragu dengan kemampuan bank-bank investasi mengelola dana mereka.  Kondisi inilah yang terjadi pada Lehman Brothers.  Ketika investasi besar-besaran disalurkan ke subprime mortgage mengalamai gagal bayar, maka buru-buru para pemilik modal ingin menarik dananya dari pengelolaan Lehman Brothers.  Akibatnya, perusahaan keuangan yang terkenal sebagai perusahaan dengan pengelolaan terbaik di Wall Street ini mengumumkan pailit alias bangkrut di hadapan United States Bankruptcy Court, senin lalu di New York.

Upaya terakhir yang dilakukan oleh Lehman Brothers adalah mencari pembeli seperti yang dilakukan oleh Merrill Lynch.  Awalnya Bank Barclays tertarik melakukan akuisisi terhadap Lehman, namun setelah mencermati kondisi keuangan perusahaan, bank asal Inggris ini akhirnya mundur teratur dan membatalkan niatnya.  Sementara itu, Pemerintah Amerika, yang sebelumnya menginjeksi Fannie Mae dan Freddie Mac,  dengan tegas menolak memberi dana talangan  kepada perusahan yang sudah berusia 158 tahun ini.

Banyak kalangan yang tercengang dengan ambruknya Lehman Brothers.  Betapa tidak, perusahaan ini berhasil lolos dari bencana ekonomi paling parah dalam sejarah, yaitu depresi ekonomi tahun 1930an.  Saat itu ratusan bank gulung tikar, harga-harga saham kehilangan nilainya hingga 90%, PDB anjlok hingga 29%, dan terjadi deflasi hingga 30%.  Dengan kondisi separah itu, Lehman Brother merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang berhasil mempertahankan eksistensinya.  Hal ini berarti bahwa krisis subprime mortgage merupakan ancaman serius, bukan saja bagi perekonomian Amerika, tapi juga bagi perekonomian dunia.

Bagaimana subprime mortgage bisa begiru merusak?

Subprime mortgage adalah kredit perumahan bagi masyarakat Amerika yang tidak memiliki kelayakan menerima kredit sehingga dikategorikan beresiko tinggi.  Dengan kata lain, potensi gagal bayar dari penerima kredit ini memang cukup besar.  Hal ini kemudian diperparah dengan strategi marketing yang terkenal dengan fitur 2/28.  Artinya, para peminjam akan membayar bunga yang sangat rendah pada 2 tahun pertama (fix rate), tapi setelah itu bunga pinjaman langsung melonjak drastis (adjustable rate).  Strategi marketing ini berhasil menarik minat masyarakat Amerika untuk mengambil mortgage, terutama dengan pertimbangan bunga yang sangat rendah pada 2 tahun pertama.  Dengan harga rumah yang cenderung naik, mereka berharap sebelum tahun ke-2 rumah bisa dijual untuk membayar sisa mortgage.

Di sisi lain, perusahaan keuangan berpikir keras mencari dana untuk membiayai proyek subprime mortgage.  Dengan berbagai inovasi keuangan yang canggih, kredit rating subprime mortgage yang sebenarnya rendah berhasil disulap menjadi kategori AAA (very high quality) atau sangat layak investasi.  Caranya, pinjaman-pinjaman subprime mortgage dikumpulkan dan dikemas menjadi sebuah surat berharga atau yang dikenal dengan sebutan mortgage back securities (MBS). Selanjutnya, beberapa MBS dicampur dengan sekuritas dengan rating yang tinggi dan dikemas ulang menjadi Collateralized Debt Obligations (CDOs). CDOs inilah yang mendapat rating tinggi dan kemudian dijual ke berbagai bank, perusahaan asuransi, hedge funds, reksadana (mutual funds), dan lain-lain, baik di AS maupun di luar AS.

Dengan kredit rating berkualifikasi tinggi, perusahaan-perusahaan yang ditawari CDOs berbondong-bondong menyalurkan dananya ke proyek subprime mortgage.  Tidak mengherankan ketika kemudian terjadi gagal bayar (default) dari para peminjam subprime mortgage, banyak perusahaan yang terkena getahnya.  Tercatat sudah lebih dari 10 bank yang gulung tikar akibat krisis subprime mortgage.

Total kerugian akibat krisis subprime mortgage sebelum Lehman Brothers, menurut IMF, mencapai 1 trilyun dollar Amerika dan dampaknya menyebar ke seantero dunia.  Kasus Lehman Brother sendiri dianggap sebagai kebangkrutan terbesar sepanjang sejarah kebangkrutan AS dengan total utang 613 miliar dollar AS dan aset 639 miliar dollar AS. Sebelumnya, perusahaan dengan aset terbesar yang mengalami kebangkrutan adalah Worldcom Inc  dengan nilai aset 126 miliar dollar AS dan Enron Corp  dengan total aset 81 miliar dollar AS.

Masyarakat dunia tentunya mengharapkan tidak ada lagi perusahaan yang tutup dan Lehman Brothers menjadi korban terakhir subprime mortgage.  Mereka berharap terjalinnya kerjama regional dan internasional dari para pengambil kebijakan ekonomi dalam menangani kasus subprime mortgage.

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2009 in Articles, Lehman brothers

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: