RSS

Burukkah Ekonomi Pasar?

18 Jan

Dalam tulisannya berjudul Mencari Jejak Pemikiran Hatta (Kompas, 23/6), Sri Hartati Samhadi tiba-tiba melompat dari alur pemikiran Bung Hatta dan menyimpulkan bahwa neoliberalisme identik dengan kolonialisme.  Istilah neoliberalisme sendiri sebenarnya belum terdefinisi secara jelas dalam kajian ilmu ekonomi, namun beberapa artikel merujuk istilah ini pada sistem ekonomi pasar (market economy).  Pertanyaannya, begitu burukkah ekonomi pasar hingga diidentikkan dengan kolonialisme?

Kalau dirunut dari sejarahnya, model ekonomi pasar pertama kali dikembangkan oleh Adam Smith dalam bukunya yang terkenal The Wealth of Nations (1776).  Uniknya, buku tersebut justeru bertujuan untuk mendobrak pandangan merkantilisme yang mendominasi negara-negara Eropa saat itu yang mendukung kebijakan kolonialisme.  Menurut pandangan kaum merkantilis, ekonomi dunia adalah stagnan dan kekayaannya tetap, sehingga suatu bangsa hanya bisa berkembang dengan mengorbankan bangsa lain.  Karena itu mereka mensahkan pengiriman pasukan ke negeri-negeri lain untuk mengeruk kekayaan.

Menurut Adam Smith, merkantilisme telah menyebabkan standar hidup masyarakat mengalami stagnasi dan karenanya dibutuhkan sebuah model ekonomi baru yang mampu merombak sistem tersebut agar kemakmuran bangsa-bangsa dunia bisa meningkat.  The Wealth of Nations menawarkan sistem ekonomi pasar yang merangkum 3 unsur penting, yaitu kebebasan (freedom), kepentingan sendiri (self-interest), dan persaingan (competition).

Ketiga unsur inilah yang sering disalahartikan.  Kebebasan diterjemahkan sebagai bebas yang sebebas-bebasnya (tanpa batas), kepentingan sendiri ditafsirkan sebagai Emang Gue Pikiran (EGP), dan persaingan diartikan sebagai saling jegal tanpa perikemanusiaan.  Padahal ketiga unsur tersebut dimaksudkan untuk mendorong orang mengejar kepentingannya sendiri secara bebas, dengan caranya sendiri, dan bersaing dengan orang lain sepanjang tidak melanggar hukum keadilan.  Atau dalam batasan John Stuart Mill, sepanjang tidak mengganggu atau mengancam orang lain.

Dalam kerangka ‘tidak melanggar hukum keadilan’ inilah semua perdagangan yang sah akan bermanfaat bagi pembeli dan penjual serta tidak mengorbankan salah satu pihak.  Produsen yang mengejar kepentingannya akan bermanfaat bagi masyarakat ketika ia mampu merespon kebutuhan konsumen.  Seorang petani yang mengejar kepentingan dirinya sendiri akan bekerja keras memelihara sawahnya dan hasil panennya akan memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras.  Ringkasnya, dengan mengejar kepentingannya sendiri, tanpa disadarinya, seseorang akan mempromosikan kepentingan masyarakat melalui invisible hand.

Sistem baru ini menciptakan ruang berkreasi yang begitu luas sehingga orang dengan kebebasan berpikirnya akan mampu menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat bagi perkembangan peradaban manusia.

Magnum opus Adam Smith mendapat pengakuan internasional dan menggiring negara-negara penganut merkantilisme melakukan transformasi ke ekonomi pasar.  Bahkan mayoritas negara-negara dunia saat ini menerapkan sistem ekonomi pasar, termasuk China yang notabene sistem politiknya masih komunis.

Namun dewasa ini kritikan tajam menghujam sistem ekonomi pasar yang dipicu oleh beberapa kasus, mulai dari spekulasi finansial, kasus subprime mortgage yang menebar ancaman krisis keuangan dunia, manipulasi kredit rating, sampai dengan meroketnya harga BBM dan pangan.  Beberapa pengamat bahkan mengklaim telah terjadi kegagalan pasar (market failure) dan megusulkan penggantian sistem ekonomi pasar.

Jika ada alternatif sistem ekonomi, maka itu adalah planned economy (ekonomi terpimpin atau ekonomi komunis) yang dulu dimotori oleh Uni Sovyet dan China.  Karakteristik utama dari planned economy adalah keputusan-keputusan ekonomi dilakukan secara terpusat oleh pemerintah, termasuk dalam hal ini keputusan mengenai aliran barang, jasa, dan faktor-faktor produksi.  Konsekuensinya, pemerintah mengontrol seluruh sumberdaya produktif seperti tanah, gedung, mesin, barang modal, perusahaan, dan pabrik-pabrik.  Pemerintah juga menentukan gaji pekerja, harga barang, jumlah barang yang mesti diproduksi, dan distribusi barang-barang konsumsi.  Dengan kata lain, warga masyarakat dalam sistem ekonomi komunis tidak dibiarkan mengambil keputusan-keputusan ekonomi.

Dengan karakteristik seperti itu, pemerintah harus mengumpulkan jutaan informasi yang diperlukan untuk menentukan target produksi.  Di sisi lain, pemerintah tidak mempunyai cukup insentif untuk para manager pabrik agar berproduksi secara efisien atau menciptakan produk-produk baru sebab orientasi para manager hanyalah memenuhi target produksi yang ditetapkan oleh pemerintah, bukan profit oriented.

Tidak heran jika kemudian ekonomi komunis mengalami kegagalan, seperti yang dialami oleh Uni Sovyet dan China.  Kedua negara ini segera melakukan transformasi ke ekonomi pasar dan menunjukan hasil yang luar biasa dengan tingkat kemakmuran yang jauh diatas level ketika masih menerapkan ekonomi komunis.

Bahkan China berhasil mendominasi pasar negara-negara maju dengan aneka produknya yang terkenal murah.  Supermarket-supermarket di Amerika, Eropa, dan Australia dibanjiri oleh produk-produk ‘made in China’ yang membuktikan bahwa penguasaan pasar bukanlah dominasi negara-negara maju.  Dalam sistem ekonomi pasar dimana tidak ada pembatasan perdagangan internasional, seperti kebijakan proteksionis, setiap negara mempunyai kesempatan yang sama dalam melakukan penetrasi pasar di negara manapun.

Kebijakan proteksionis pernah diterapkan oleh pemerintah Amerika melalui The Smoot-Hawley Tariff Act tahun 1930.  Dengan kebijakan tersebut, pemerintah Amerika menaikkan tarif impor sampai 50% dengan harapan permintaan terhadap produk domestik meningkat.  Namun yang terjadi kemudian adalah impor Amerika turun drastis dan menciptakan pengangguran di negara-negara eksportir.  Sebagai respon, negara-negara lain juga menerapkan kebijakan proteksionis sehingga ekspor Amerika ikut turun drastis. Secara keseluruhan, perdagangan internasional mengalami kegoncangan dan depresi ekonomi (great depression) yang melanda dunia saat itu semakin parah.

Artinya, peristiwa kegawatan ekonomi tahun 1930an — yang bisa merefleksikan goncangan ekonomi global dewasa ini– tidak bisa disimpulkan sebagai bentuk kegagalan ekonomi pasar (market failure) seperti yang pernah diungkapkan oleh ekonom John Maynard Keynes. Malahan merupakan bentuk kegagalan pemerintah (government failure) yang melakukan intervensi pasar secara tidak benar sebagaimana dikemukakan oleh ekonom peraih Nobel, Milton Friedman.

Belajar dari kegagalan ekonomi komunis dan depresi ekonomi tahun 1930an, intervensi negara dalam ekonomi pasar mesti dibatasi.  Namun perlu digarisbawahi bahwa sistem ekonomi pasar tetap membutuhkan pemerintahan yang kuat yang mampu menciptakan sistem hukum yang bisa melindungi kebebasan, hak milik, menjamin perjanjian, dan pembayaran hutang.  Pemerintahan yang mampu menyediakan infrastruktur publik seperti jalan, kanal, jembatan, pelabuhan, dan sebagainya.  Pemerintahan yang mampu menyediakan pendidikan umum bagi warga negara.  Dan yang tak kalah pentingnya, pemerintahan yang mampu mencegah munculnya kekuatan monopoli.

Monopoli merupakan musuh sistem ekonomi pasar sebab ia akan menciptakan laba secara mudah dan cepat tanpa ada persaingan usaha yang sehat yang pada gilirannya akan menciptakan harga yang tinggi.  Lebih jauh Jerry Z. Muller (1993) mengatakan bahwa monopoli akan membentuk masyarakat politik yang penuh tingkah laku menjilat, memperbudak, dan menipu.

Ringkasnya, sistem ekonomi pasar menentang kolonialisme, mendukung perdagangan internasional, menolak kebijakan proteksionis, membatasi intervensi negara, mendorong pemerintahan yang kuat, dan memusuhi kekuatan monopoli.  Lalu bagaimana mungkin gagasan sebaik ini dianggap begitu buruk dan bahkan diidentikan dengan kolonialisme?

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2009 in Articles, Ekonomi pasar

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: