RSS

Perdagangan Karbon

18 Oct

Perdebatan tentang perdagangan karbon menunjukan bahwa masih banyak pihak yang belum paham benar tentang konsep dan substansi dari perdangan karbon, seolah-olah perdagangan karbon merupakan akal-akalan negara maju.  Seolah-olah perdagangan karbon sama seperti jual-beli arang di pasar.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Perdagangan karbon merupakan hasil kompromi optimum setelah perdebatan panjang antara negara-negara maju dengan dengan negara-negara berkembang ketika menggolkan Protokol Kyoto.  Argumentasi negara-negara maju (industrilized countries) adalah meningkatnya emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya — selanjutnya disebut karbon equivalen — di atmosfer merupakan tanggungjawab semua negara, karena itu setiap negara di dunia mesti mempunyai target penurunan emisi karbon.  Akan tetapi, negara-negara berkembang (developing contries) berpendapat bahwa peningkatan emisi karbon equivalen secara signifikan terutama terjadi sejak jaman revolusi industri pada abad ke-18 dan terjadi di negara-negara maju, dimana saat itu negara berkembang belum memulai aktifitas industri. Selain itu, negara berkembang masih membutuhkan proses industrialisasi untuk mensejahterakan rakyatnya yang relatif masih banyak hidup dibawah garis kemiskinan.  Karena itu target penurunan emisi karbon mesti dimulai dari negara maju.

Dengan argumentasi ini, akhirnya negara-negara maju setuju untuk memulai penurunan emisi karbon melalui target yang disepakati melalui Protokol Kyoto.  Tentu saja, seperti yang diketahui bersama, saat itu Amerika dan Australia sepakat untuk tidak sepakat dengan protokol ini, walaupun dalam COP-13 di Bali baru-baru ini Perdana Menteri Australia yang baru mengumumkan secara resmi untuk meratifikasi protokol Kyoto.  Jadi, tinggal Amerika yang masih ketinggalan kereta.

Melalui Protokol Kyoto, negara-negara industri secara kolektif akan mengurangi emisi gas rumah kaca (karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC) sebesar 5,2% selama masa 5 tahun, antara 2008-2012, dibandingkan dengan emisi tahun 1990.  Namun perlu dicatat bahwa jika dibandingkan dengan estimasi emisi karbon tahun 2010 tanpa Protokol Kyoto, persentasi penurunan sebenarnya sebesar 29%.  Dengan protokol ini, target nasional untuk Uni Eropa sebesar 8%, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.

Jika sukses, Protokol Kyoto diperkirakan akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050.

Sementara itu, Amerika dibawah pimpinan Presiden George W. Bush menolak Protokol Kyoto dengan alasan bahwa pengurangan emisi karbon sebesar 7% akan menelan biaya yang sangat besar yang pada gilirannya akan menghambat pertumbuhan ekonomi negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia tersebut.  Selain itu, Amerika juga berpendapat bahwa negara-negara berkembang, seperti China, mestinya juga diberi beban target pengurangan emisi karbon.  Penolakan Presiden Bush terhadap Protokol Kyoto mendapat dukungan kuat di Amerika, terutama dari kalangan industri minyak, batu bara, dan perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil.  Mereka berpendapat bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto sebesar 300 milyar dollar.

Tentu saja bagi para pihak pendukung Protokol Kyoto, angka 300 milyar dollar terlalu berlebihan.  Menurut mereka, biaya yang dibutuhkan hanya sebesar 88 milyar dollar dan bisa lebih kecil lagi melalui program penghematan penggunaan energy berbahan bahan fossil dan penggunaan energi terbarukan (renewable energy).

Secara garis besar, ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.  Pertama, mengurangi produksi gas rumah kaca dan kedua, mencegah gas rumah kaca dilepas ke atmosfir (carbon sequestration).  Berdasarkan Protokol Kyoto, pendekatan pertama merupakan domain negara-negara maju (Annex-1) sementara pendekatan kedua merupakan tanggungjawab negara-negara berkembang (Non-Annex-1).  Karena itu dikenal prinsip ‘common but differentiated responsbilities’ yang berarti bahwa negara-negara di dunia mempunyai tanggungjawab bersama tetapi dengan porsi yang berbeda.

Protokol Kyoto memungkinkan kerjasama antara negara maju dan negara berkembang dalam mengurangi gas rumah kaca, yaitu melalui mekanisme Clean Development Mechanism (CDM).  Dengan mekanisme ini, negara maju yang belum berhasil mencapai target emisi karbon dapat menggantinya dengan melaksanakan ‘proyek karbon’ di negara berkembang, seperti proyek renewable energy (pembangkit listrik tenaga air, angin, matahari), proyek efisiensi energi, proyek perlindungan hutan, dsb.  Jumlah gas rumah kaca yang berhasil dicegah untuk tidak lepas ke atmosfir melalui proyek CDM di negara berkembang tersebut kemudian dijadikan sebagai ‘kredit karbon’ oleh negara maju.  Kredit karbon selanjutnya diperhitungkan dalam pencapaian negara maju terhadap target emisi karbon.

Mekanisme ini dikenal dengan ‘perdagangan karbon’.  Contoh perdagangan karbon adalah sebagai berikut: Suatu negara maju mempunyai target emisi karbon sebesar 20.000 ton CO2e/tahun, namun masih menghasilkan 25.000 ton CO2e/tahun.  Setelah melakukan berbagai langkah pengurangan pemakaian energi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi, negara ini hanya mampu mengurangi emisi karbon pada level 22.000 ton CO2e/tahun.  Maka sisa 2.000 ton CO2e dapat di beli melalui mekanisme perdagangan karbon yaitu dengan melakukkan proyek karbon di negara berkembang senilai 2.000 ton CO2e karbon kredit..

Perdagangan karbon bukan hanya antara negara maju dan negara berkembang, akan tetapi juga antara sesama negara maju yaitu melalui mekanisme emission trading.  Dengan mekanisme ini, negara maju yang sukses melampaui target emisi atau masih memiliki ‘hak polusi’ yang tidak digunakan dapat dijual ke negara maju lainnya.

Namun perlu digarisbawahi bahwa syarat utama untuk bisa terjun ke perdagangan karbon adalah negara-negara maju mesti bisa membuktikan bahwa mereka benar-benar telah mengupayakan penurunan emisi karbon melalui program pengurangan konsumsi energi, peningkatan efisiensi energi, atau penggunaan energi terbarukan.  Jika tidak mampu memenuhi syarat tersebut, maka Dewan Eksekutif CDM tidak akan mengeluarkan sertifikat kredit karbon atau Certified Emission Reductions (CER) kepada negara yang bersangkutan.

Persyaratan lain untuk bisa memperoleh karbon kredit melalui mekanisme perdagangan karbon adalah apa yang disebut dengan ‘additionality’.  Additionality berarti bahwa proyek karbon di negara berkembang hanya mungkin terealisasi melalui mekanisme perdagangan karbon.  Jadi, jika suatu negara berkembang sudah merencanakan dan mengalokasikan anggaran untuk proyek karbon, maka pendanaan proyek melalui mekanisme perdagangan karbon dianggap ‘tidak additional’.  Dengan kata lain, proyek karbon dianggap ‘tidak additional’ jika tanpa pendanaan melalui mekanisme perdagangan karbon, proyek tersebut tetap bisa berjalan.  Dewan Eksekutif CDM tidak akan mengeluarkan sertifikat kredit karbon (CER) jika suatu proyek karbon dinilai ‘tidak additional’.

Setelah kedua persyaratan tersebut terpenuhi, proses berikutnya adalah menghitung ‘baseline’ yaitu prakiraan emisi karbon jika tidak ada proyek karbon.  Karbon kredit dihitung berdasarkan selisih antara baseline dengan emisi karbon yang dihasilkan setelah proyek.  Hal yang wajib dilakukan untuk menjamin kredibilitas analisis baseline dan kalkulasi emisi karbon setelah proyek adalah proses verifikasi.  Proses ini dilakukan oleh pihak ketiga yang independen untuk memastikan bahwa proyek karbon tersebut betul-betul telah mengurangi emisi karbon.

Secara keseluruhan, perdagangan karbon melalui mekanisme CDM membutuhkan paling tidak 7 tahapan, mulai dari tahap persiapan sampai dengan tahap penerbitan sertifikat kredit karbon (CER) oleh Dewan Eksekutif CDM.  Setiap tahap membutuhkan proses validasi dan verifikasi yang sangat ketat.  Tahapan-tahapan ini menunjukan bahwa perdagangan karbon tidaklah sesederhana yang digambarkan para pihak diluar sidang UNFCCC di Bali belum lama ini.

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2008 in Articles, Perdagangan karbon

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: