RSS

Depresi Ekonomi 1930-an

09 Apr

Krisis kredit perumahan Amerika, subprime mortgage, telah menyebabkan keguncangan ekonomi, bukan saja terhadap ekonomi Amerika tetapi juga ekonomi dunia. Bank sentral Amerika, The Fed, beberapa kali menurunkan suku bunga sejak krisis ini muncul. Beberapa pihak beranggapan bahwa tindakan The Fed ini menunjukan kepanikan dan kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi bahkan depresi ekonomi seperti yang terjadi tahun 1930-an. Apa sebenarnya yang terjadi saat depresi ekonomi di tahun 1930-an?

Pada tahun 1925 dan 1927, The Fed menurunkan suku bunga untuk mendukung Bank Sentral Inggris, Bank of England, menerapkan standar emas. Pada saat yang bersamaan, bursa efek sedang bergairah (bullish). Akibatnya, jutaan warga AS meminjam uang di bank dan kemudian menginvestasikannya di bursa saham. Saat itulah terjadi ledakan spekulatif yang menggiring terciptanya gelembung ekonomi (economic bubble).

Harga-harga saham memang meningkat dan mencapai puncaknya tanggal 3 September 1929. Namun, Kamis, 24 Oktober 1929, harga saham mulai terjun bebas. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Kamis Hitam” (Black Thursday).

Beberapa langkah coba ditempuh oleh pimpinan bank-bank terkemuka, di antaranya dengan membeli saham-saham bluechip (saham unggulan) untuk mengangkat sentimen positif. Namun sayangnya, hal itu tetap tidak mampu mendongkrak pasar. Minggu berikutnya terjadi penjualan saham massal dan mencapai puncaknya pada Selasa, 29 Oktober 1929, ketika pasar mengalami kerugian sebesar 14 miliar dolar AS. Hari itu dikenang sebagai “Selasa Hitam” (Black Tuesday).

Total kerugian dalam minggu itu mencapai 30 miliar dolar AS, 10 kali lipat dari anggaran belanja tahunan pemerintah federal AS dan lebih besar dari seluruh biaya yang dikeluarkan oleh AS guna membiayai Perang Dunia II.

Runtuhnya lantai bursa menyebabkan banyak bank gulung tikar. Awal tahun 1930, ada 60 bank gulung tikar, disusul 254 bank di bulan November, dan 344 bank di bulan Desember. Salah satu bank yang gulung tikar adalah Bank of the United States, bank keempat terbesar di New York, dengan 450.000 depositor.

Kondisi ini berefek domino pada bangkrutnya banyak perusahaan. Angka pengangguran mencapai hampir 25% tahun 1933. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) anjlok hingga 29% dan harga saham kehilangan nilainya hingga hampir 90%. Sementara itu terjadi deflasi, harga-harga jatuh hingga 30%.

Pemerintah AS kemudian mengeluarkan kebijakan proteksionis, The Smoot-Hawley Tariff Act pada bulan Juni 1930. Yakni dengan menaikkan tarif impor sampai 50%. Tujuan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan permintaan terhadap produk domestik dan meningkatkan pendapatan dari tarif.

Kebijakan ini ternyata justru memperparah keadaan. Impor turun drastis di AS dan menciptakan pengangguran di negara-negara eksportir. Sebagai respons, negara-negara lain juga menerapkan kebijakan proteksionis, sehingga menyebabkan ekspor AS terganggu. Perdagangan internasional AS turun 33% pada tahun 1933. Pengangguran pun semakin meroket.

Bagaimana pendapat para ekonom terhadap depresi ekonomi?

Ada tiga pendapat utama (mainstream) yang sering dijadikan referensi, yaitu pendapat Ludwig von Mises dan Friedrich A. Hayek (aliran Austria), John Maynard Keynes, dan Milton Friedman.

Aliran Austria sebenarnya sudah memprediski terjadinya depresi ekonomi. Menurut mereka, keputusan bank sentral menaikkan dan menurunkan bunga pada tahun 1920-an, jelas akan menciptakan boom artificial. Akan tetapi, di bawah standar emas internasional, boom inflasioner itu akan berlangsung singkat. Kejatuhannya jelas tak terhindarkan dan akibatnya bisa sangat parah.

Ludwig von Mises sendiri pernah ditawari posisi tinggi di bank Kreditanstalt, salah satu bank terbesar di Eropa saat itu. Namun, ia menolak dengan alasan “Keruntuhan besar akan segera terjadi dan aku tak ingin namaku dikait-kaitkan dengan bencana itu”. Benar saja, bank Kreditanstalt bangkrut pada tahun 1931.

Akan tetapi, aliran Austria dianggap hanya mampu menjelaskan penyebab depresi ekonomi, tetapi gagal meramu obat yang manjur untuk mengatasinya. Hingga kemudian terbitlah sebuah buku karangan John Maynard Keynes berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money. Menurut Keynes, depresi ekonomi disebabkan oleh kepanikan yang berhubungan permintaan irasional terhadap uang tunai di Wall Street yang disebutnya sebagai “preferensi likuiditas” dan “pemujaan likuiditas”.

Solusi yang dikemukakan Kenyes adalah pemerintah mesti menjalankan kebijakan defisit anggaran dan melakukan pengeluaran untuk kerja publik yang akan menaikkan permintaan dan memulihkan kepercayaan. Artinya, Keynes menolak doktrin Laissez-faire yaitu doktrin yang tidak menginginkan intervensi pemerintah dalam perekonomian atau yang lebih dikenal dengan pasar bebas.

Secara lebih ekstrem, Keynes mengatakan bahwa pemerintah boleh melakukan pengeluaran yang tidak produktif seperti pembangunan piramida atau bahkan perang. Pengeluaran tersebut dapat meningkatkan permintaan agregat dan membantu pemulihan ekonomi. Argumen Keynes ini terbukti benar ketika AS ikut terlibat dalam Perang Dunia ke-2 di saat pengeluaran dan pembiayaan defisit naik secara drastis, dari 15% menjadi 46% terhadap GNP. Hasilnya, pengangguran mencapai titik terendah,1,2%, dan output ekonomi naik tajam.

Selain itu, Keynes juga beranggapan bahwa bermain-main dengan kebijakan fiskal (mengubah pengeluaran dan pajak) lebih efektif ketimbang kebijakan moneter (mengubah persediaan uang dan suku bunga).

Pandangan yang berbeda dengan tesis Keynes muncul sekitar 30 tahun kemudian yaitu dari ekonom peraih Nobel, Milton Friedman, yang menulis buku monumental berjudul A Monetary History of the United States. Menurut Friedman, tahun 1930-an merupakan saksi tragis bagi pentingnya faktor moneter dalam menghasilkan depresi ekonomi. Pemerintah, katanya, bertindak tidak tepat dalam membalikkan resesi dan bahkan memperparah depresi.

Lebih lanjut Friedman berpendapat bahwa depresi terjadi karena intervensi The Fed yang mengontrol jumlah uang beredar di pasar. Dari tahun 1929 sampai tahun 1933, stok uang turun sampai lebih dari sepertiga yang berimbas pada perlambatan ekonomi.

Dengan kata lain, Friedman berbeda pendapat dengan Keynes dalam merumuskan penyebab depresi ekonomi. Keynes menyebut market failure (kegagalan pasar) sebagai penyebab depresi ekonomi, sedangkan Friedman menunjuk penyebabnya adalah government failure (kegagalan pemerintah).

Apakah krisis kredit subprime saat ini akan menggiring perekonomian Amerika dan dunia ke depresi ekonomi, seperti yang terjadi tahun 1930-an?

Beberapa ahli ekonomi mengamini bakal terjadinya depresi ekonomi, terutama karena adanya kesamaan faktor penyebab yaitu ledakan spekulasi atau yang oleh Keynes disebut sebagai “pemujaan likuiditas”.

Selain itu, pasar keuangan dewasa ini dikelola dengan sangat canggih dan menggunakan kalkulasi yang rumit alias membingungkan. Untuk kasus subprime mortgage, misalnya, kredit dengan rating rendah bisa “dimanipulasi” dan kemudian berubah menjadi AAA (very high quality) atau sangat layak investasi.

Caranya, pinjaman-pinjaman subprime mortgage dikumpulkan dan dikemas menjadi sebuah surat berharga atau yang dikenal dengan sebutan mortgage back securities (MBS). Selanjutnya, beberapa MBS dicampur dengan sekuritas dengan rating yang tinggi, dikemas ulang menjadi Collateralized Debt Obligations (CDOs). CDOs inilah yang mendapat rating tinggi dan kemudian dijual ke berbagai bank, perusahaan asuransi, hedge funds, reksadana (mutual funds), dan lain-lain, baik di AS maupun di luar AS. Tidak mengherankan jika kemudian risiko subprime mortgage tersebar ke mana-mana.

Namun demikian, masih banyak kalangan yang percaya akan kemampuan pemerintah dan bank sentral dalam menanggulangi krisis subprime mortgage sehingga depresi ekonomi bisa terhindarkan. Apalagi Gubernur Bank Sentral Amerika saat ini, Ben Bernanke, adalah seorang ekonom yang banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti depresi ekonomi 1930-an.

***

Dimuat di harian Pikiran Rakyat edisi 9 April 2008

 
1 Comment

Posted by on April 9, 2008 in Articles, Depresi ekonomi

 

Tags: , , ,

One response to “Depresi Ekonomi 1930-an

  1. viciorizky

    March 21, 2011 at 11:33 am

    mantab. I like it. dpt templatenya drimana?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: