RSS

Lika-Liku Kenaikan Harga BBM

18 Jan

Meroketnya harga minyak dunia dan ‘disesuaikannya’ harga BBM domestik oleh pemerintahan SBY-JK masih menjadi perhatian utama masyarakat minggu-minggu ini.  Demonstrasi menolak kenaikan harga BBM masih berlangsung walaupun dengan intensitas yang semakin menurun, mungkin karena pengaruh Euro 2008 yang baru saja dibuka.  Sementara itu salah satu fraksi di senayan dengan genitnya mengancam akan mengusulkan sidang impeachment MPR jika pemerintah tidak segera menurunkan harga BBM, meskipun fraksi yang bersangkutan pernah menjadi bagian dari pemerintah yang juga menaikkan harga BBM.

Pekan lalu harga BBM memecahkan rekor baru dengan menembus angka 138,54 dollar per barrel.  Beberapa pengamat menduga hal ini dipicu oleh pernyataan Wakil Perdana Menteri Israel Shaul Mofaz  yang mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran jika pemerintah negara jiran tersebut tidak menghentikan progran nuklirnya.  Tapi untungnya ancaman Front Pembela Islam (FPI) agar pemerintah RI segera membubarkan Ahmadiyah tidak memicu kenaikan harga BBM di berbagai SPBU di Indonesia.

Kenaikan harga minyak memang sering bersinggungan dengan faktor geopolitk.  Ketika Amerika mendukung Israel dalam perang melawan negara-negara Arab tahun 1973 yang terkenal dengan perang Yom Kippur, negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC memberlakukan embargo terhadap penjualan minyak mentah ke Amerika.  Akibatnya, para pembeli (spekulan) bersedia membayar lebih mahal untuk memborong minyak di pasar internasional.  Harga minyak dunia pun naik empat kali lipat dari 3 dollar per barrel pada tahun 1973 menjadi 12 dollar per barrel tahun 1974 yang langsung mendongkrak angka inflasi dunia.  Di Amerika, angka inflasi meningkat dari 6,2 persen tahun 1973 menjadi 11,1 persen tahun berikutnya.  Sementara di Jepang lebih parah lagi, dari 11,7 persen tahun 1973 menjadi 24,5 persen tahun 1974.

Banyak yang menuding para spekulan yang memborong dan menimbun minyak sebagai biang kerok terjadinya kenaikan harga minyak dunia saat itu.  Namun beberapa kalangan menyebutnya sebagai kepanikan yang logis untuk menghindari terhentinya suplai minyak.  Kondisi ini tentu berbeda dengan para spekulan lokal yang menimbun BBM sebelum pengumuman resmi kenaikan harga BBM oleh pemerintah.  Mereka adalah para spekulan yang ingin mengambil untung (bukan takut kehabisan suplai) berdasarkan sinyal yang ditangkap dari pemerintah tentang akan dinaikkannya harga BBM.

Harga minyak kembali mengamuk tahun 1979 yang dipicu oleh runtuhnya kekuasaan Shah Iran yang didukung Amerika.  Kemenangan monumental rakyat Iran dibawah pimpinan Ayatullah Khomeini membutuhkan proses transisi pemerintahan yang berbuntut pada terhentinya arus ekspor minyak dari negara itu.  Kondisi ini diperparah dengan meletusnya perang Iran-Irak tahun 1980.  Harga minyak pun membubung dari 13 dollar per barrel pada 1978 menjadi 32 dolar per barrel tahun 1980 akibat ketergesaan negara-negara pengimpor minyak yang menumpuk cadangan minyak sebanyak-banyaknya.  Alasan yang dikemukakan sama dengan alasan tahun 1973, yaitu untuk menghadapi kemungkinan terhentinya suplai minyak.

Lonjakan harga minyak ini memicu terjadinya inflasi di berbagai belahan dunia.  Untuk negara maju, inflasi paling parah dialami Italia, naik dari 12,1 persen tahun 1978 menjadi 21,2 persen tahun 1980.  Para pemimpin negara berpikir keras merancang strategi untuk menanggulangi gejala inflation overhang sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia.  Beberapa negara secara bersamaan meluncurkan kebijakan fiskal kontraksioner, sementara negara lainnya menerapkan kebijakan moneter restriktif.  Tapi yang jelas, tidak ada ada satu negara pun saat itu yang begitu kreatif memperkenalkan program BLT bagi rakyatnya yang miskin guna meredam dampak kenaikan harga BBM.

Setelah amukan harga minyak tahun 1980, harga minyak relatif turun selama hampir satu dekade.  Namun harga minyak kembali melonjak-lonjak dalam kurun waktu tahun 1990an yang dipicu oleh perang teluk tahun 1990-1991 dan krisis moneter di Asia tahun 1997-1998. Di Indonesia, krisis moneter (krismon) menciptakan spekulan massal yang secara serempak menarik uang tunai dari bank-bank yang berakibat pada lumpuhnya sistem perbankan nasional.

Krisis ini juga menjungkalkan pemerintahan orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto setelah mengikuti salah satu terapi IMF, yaitu menaikkan harga BBM guna mengurangi beban subsidi APBN.  Untungnya shock terapi yang dilakukan polisi dengan mengerahkan lebih dari 1.000 petugas untuk menangkap anggota FPI yang terlibat dalam insiden Monas berhasil menjatuhkan nyali aktifis FPI yang terkenal radikal.

Memasuki abad 21, harga minyak dunia kembali meroket bahkan beberapa kali memecahkan rekor jika dilihat dari angka nominalnya.  Meroketnya harga minyak ini dipicu oleh serangan 11/9 tahun 2001 ke gedung kembar WTC di New York yang disusul dengan invasi Amerika ke Irak tahun 2003.

Ketika pasukan Amerika menggempur kota-kota Irak, warga dunia disuguhi tontonan perang ala film-film Holywood.  Saat itu para wartawan dari berbagai penjuru dunia melakukan liputan langsung dari medan tempur.  Tapi histeria publik dunia justeru muncul ketika Barack Obama berhasil memenangkan nominasi calon presiden Amerika dari Partai Demokrat setelah berhasil mengkandaskan ambisi politik mantai first lady Hillary Clinton.  Beberapa jurnalis mengklaim bahwa saat ini dunia sedang demam Obama, mulai dari sebuah desa kecil di Jepang yang kebetulan bernama Obama, Kenya yang merupakan tanah kelahiran sang ayah, Indonesia tempat Obama sempat bersekolah saat kecil, hingga daratan Eropa.  Barack Obama yang masih muda, jago pidato, kharismatik, dan menguasai berbagai persoalan domestik dan internasional telah berhasil menginspirasi, bukan saja warga Amerika, tapi juga warga dunia.

Sepanjang tahun 2008 harga minyak dunia terus bergejolak bahkan menembus angka yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kali ini dipicu oleh spekulasi serangan militer Amerika dan Israel ke Iran.  Kenaikan harga minyak dunia ini kembali memaksa pemerintahan SBY-JK mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi untuk kesekian kalinya.  Kebijkan yang tidak populer ini sontak disambut demonstrasi oleh para mahasiswa di berbagai kota.

Seorang profesor ekonomi menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan demonstrasi mahasiswa.  Sang profesor merasa heran, bukankah subsidi BBM selama ini lebih banyak dinikmati oleh kalangan menengah keatas yang memiliki beberapa mobil bermesin besar di pekarangan rumahnya?  Lalu siapa yang sedang diperjuangkan para pendemo, kalangan atas itu atau rakyat kecil yang tidak bisa menikmati kue BBM?  Entahlah, tapi yang pasti harga minyak akan terus mencari jalannya sendiri yang penuh dengan lika-liku mengikuti hukum alam yang melekat padanya, supply and demand.



 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2008 in Articles, Lika-Liku harga BBM

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: