RSS

Kekayaan Alam dan Kinerja Ekonomi

15 Aug

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kelimpahan sumberdaya alamnya.  Buku-buku sekolahan menggambarkan dengan rinci daftar kekayaan alam kita, seperti minyak bumi, emas, nikel, tembaga, gas bumi, batu bara, kehutanan, kelautan, dan sebagainya.  MT Zen, guru besar ITB, menyebut bio-geo-ethno-socio-cultural diversity untuk menggambarkan kekayaan keanekaragaman benua maritim Indonesia.

Sayangnya, dengan modal sumberdaya alam yang melimpah ini, kinerja ekonomi Indonesia tidak menunjukan hasil yang menggembirakan, setidaknya jika dilihat dari angka kemiskinan dan pengangguran yang masih melambung tinggi, serta angka investasi yang terlampau rendah.  Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pun tidak menunjukan hasil yang spektakuler.

Pertanyaannya adalah apakah ada hubungan sebab akibat (causality) antara kekayaan sumberdaya alam dan kinerja ekonomi?

‘Uji forensik ‘ekonometrik yang dilakukan oleh dua ekonom terkenal dari Universitas Harvard, Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (1995), menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kekayaan sumberdaya alam dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.  Dengan kata lain, negara-negara yang menggantungkan ekonominya terhadap kekayaan sumberdaya alam cenderung mengalami perlambatan dalam pertumbuhan ekonominya.  Kesimpulan kedua ekonom ini tentu saja melabrak paradigma berpikir sebelumnya (the old wisdom) bahwa kekayaan sumberdaya alam akan memicu pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Contoh klasik pembenaran terhadap kesimpulan kedua ekonom tersebut adalah penemuan cadangan gas alam di Belanda yang justeru menggiring negeri kincir angin tersebut ke jurang resesi ekonomi.  Pada awalnya, penemuan tersebut menarik investor dari berbagai belahan dunia untuk menanamkan modalnya di bisnis eksploitasi gas alam, sehinga terjadi capital inflows secara besar-besaran ke Belanda.  Akibatnya mata uang Belanda saat itu (Guilder) mengalami apresiasi yang signifikan terhadap mata uang dunia dan efeknya adalah daya saing produk-produk manufaktur dan agro-industri Belanda kehilangan daya saing di pasar internasional.  Kondisi ini diperparah dengan terpusatnya resources yang dimiliki pada sektor penambangan gas bumi dan mengabaikan sektor-sektor produktif lainnya.  Pada akhirnya, ekonomi Belanda mengalami resesi ekonomi.  Situasi ini sering disebut sebagai Dutch disease oleh para ekonom dan jurnalis.

Selain itu, kelimpahan sumberdaya alam sering menciptakan konflik yang justeru menghambat aktifitas perekonomian suatu negara. Jika konflik tidak ditangani dengan baik, maka kekayaaan alam justru akan menciptakan mudarat ketimbang manfaat sebagaimana yang terjadi di daerah-daerah konflik dunia. Perang sipil di Angola disebabkan oleh perebutan ladang minyak dan berlian, perang sipil di Kamboja dipicu oleh perebutan kekuasaan atas ladang minyak dan emas, sementara perang sipil di Papua New Guinea diakibatkan oleh perebutan tambang emas dan tembaga.  Kawasan Timur tengah merupakan kawasan yang terus bergolak hingga saat ini dan salah satu pemicunya adalah sumur minyak yang melimpah-ruah. Daerah konflik di Indonesia sendiri, seperti Aceh dan Papua, juga terjadi karena adanya kepentingan untuk menguasai ladang minyak, emas, tembaga, dan gas alam.

Kekayaan sumberdaya alam memang memberikan insentif kepada masyarakat untuk mencari jalan pintas menjadi kaya tanpa ‘banting tulang peras keringat’.  Tipologi masyarakat seperti ini akan mengalihkan resources yang dimiliki dari investasi yang produktif ke investasi lobby  yang tidak produktif (rent-seeking) alias korupsi.  Menurut Mauro (1995) terdapat hubungan negatif antara korupsi dan investasi serta pertumbuhan ekonomi.  Jadi, jika indeks korupsi tinggi, maka level investasi akan rendah dan pertumbuhan ekonomi tidak bisa diharapkan mencapai level yang spektakuler.  Situasi seperti ini yang sedang terjadi di Indonesia dimana level perkorupsian sudah begitu tinggi, sehingga para investor asing enggan untuk berinvestasi di dalam negeri dan bahkan merelokasi pabrik-pabrik mereka ke negara lain yang iklim investasinya lebih kondusif.

Mental rent-seeking dipertontonkan oleh para pengusaha hitam penebang hutan yang di dukung oleh para birokrat hitam.  Akibatnya hutan Indonesia mengalami penggundulan yang amat sangat dan menjadikan masyarakat Indonesia sebagai pelanggan setia banjir dan tanah longsor di musim hujan yang sering menelan banyak korban jiwa.  Sementara di musim kemarau, masyarakat Indonesia diperhadapkan dengan masalah asap tebal sebagai akibat dari terjadinya kebakaran hutan.

Di laut, mental rent-seeking juga diperlihatkan oleh para pengusaha hitam, yaitu dengan mensuplai alat dan bahan penangkap ikan yang merusak lingkungan kepada para nelayan, seperti bahan peledak dan bahan kimia untuk membius ikan.  Kegiatan menangkap ikan dengan cara merusak lingkungan (destructive fishing practices) memang memberikan keuntungan yang menggiurkan dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang menjanjikan kebangkrutan.  Saat ini ekosistem laut di Indonesia, khususnya terumbu karang, telah mengalami kerusakan parah akibat kegiatan destructive fishing dan masyarakat nelayan mesti menghabiskan lebih banyak waktu melaut dengan hasil yang jauh lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.  Dengan kata lain, biaya yang mesti dikeluarkan oleh nelayan untuk menangkap ikan meningkat secara drastis, sementara hasil tangkapan yang diperoleh belum tentu mencukupi biaya melaut.

Pengrusakan lingkungan akibat dari dorongan mencari keuntungan dengan jalan pintas, seperti yang dihadapi oleh hutan dan laut Indonesia, umumnya terjadi di negara-negara yang mempunyai kelimpahan sumberdaya alam.  Kondisi ini sesuai dengan teorema Pearce dan Barbier (2000) bahwa negara-negara yang ekonominya bergantung pada eksploitasi sumberdaya alam cenderung mengalami kerusakan lingkungan.

Menariknya, negara-negara yang ‘miskin’ sumberdaya alam justeru menikmati kinerja ekonomi yang mantap.  Riset yang dilakukan oleh Auty (2001) menyimpulkan bahwa pendapatan per kapita negara-negara miskin sumberdaya alam  tumbuh tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki kelimpahan sumberdaya alam.  Jepang, misalnya, merupakan negara yang hampir tidak mempunyai sumberdaya alam yang bisa digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonominya, tapi saat ini merupakan satu-satunya negara asia yang dikategorikan sebagai negara maju di dunia.  Contoh lain yang paling mutakhir adalah kinerja ekonomi negara-negara industri baru (the newly industrilized economies) seperti Singapore, Taiwan, Korea Selatan, dan Hongkong (sekarang bagian dari China).  Sama halnya dengan Jepang, negara-negara ini miskin sumberdaya alam tapi menunjukan kinerja dan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler.

Dimuat di harian Kaltim Post edisi 15 Agustus 2006

.

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: